Thursday, December 6, 2012

Situasi Kebahasaan di Rote-Ndao



Berbagai hasil kajian terdahulu tidak secara khusus membuat klasifikasi bahasa berdasarkan wilayah pemerintahan. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut telah memberi gambaran bahwa di wilayah Kabupaten Rote-Ndao terdapat dua bahasa, yakni bahasa Rote dan bahasa Ndao. Pandangan mengenai variasi bahasa Rote di Kabupaten Rote-Ndao sangat beragam. Bahasa Rote, yang wilayah pemakaiannya meliputi pulau Rote dan Timor dengan jumlah penutur berkisar 200.000 orang, memiliki beberapa variasi yang sejak abad ke-18 dibagi berdasarkan wilayah geografis di pulau itu. Hal ini sangat beralasan karena wilayah Rote dengan topografi yang berbukit-bukit memungkinkan masyarakatnya hidup berkelompok secara terpisah-pisah. Namun lebih dari itu, para pakar bahasa dan budaya membuat pengelompokkan variasi bahasa di Rote berdasarkan bunyi bahasa yang digunakan oleh penutur. Fox (1986) menyebutkan bahwa bahasa Rote memiliki sembilan dialek dengan 18 subdialek, sedangkan Grimes (1997) menyatakan bahwa bahasa Rote memiliki tujuh dialek, dan Pusat Bahasa (2008) melaporkan hanya ada enam dialek. Tentu, pengelompokkan yang berbeda tersebut dilakukan berdasarkan kajian teoretis yang berbeda pula. Grimes (1997) mengatakan bahwa kompleksitas internal pada bunyi bahasa Rote menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun, secara geografis memang tidak dapat disangkali bahwa terdapat 18 wilayah pemakaian bahasa Rote berdasarkan wilayah ex-nusak.
Berbeda dengan Rote, Ndao yang hanya merupakan sebuah pulau kecil di bagian barat Rote menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa Dhao. Bahasa Dhao dengan jumlah penutur kurang lebih 3000 orang yang wilayah pemakaiannya meliputi pulau Ndao dan sebuah wilayah kecil di daerah pantai barat Ba’a, Kecamatan Lobalain, bernama Namo Ndao. Para peneliti terdahulu (Walker, 1982; Grimes, 2006) mengakui bahwa bahasa Dhao tidak memliki variasi bahasa (dialek). Walaupun demikian, bahasa tersebut memiliki beberapa ciri linguistik yang dianggap unik, di antaranya ciri fonologi yang memiliki empat fonem konsonan implosif, yakni /b’/, /d’/, /g’/, dan /j’/. Ciri fonologis tersebut tidak ditemukan dalam bahasa Rote. Secara genetis, memang, bahasa Dhao dan bahasa Rote berbeda. Bahasa Dhao merupakan rumpun Bima-Sumba yang memiliki kemiripan bunyi bahasa dengan bahasa Sawu dan bahasa-bahasa di Sumba. Sementara itu, bahasa Rote merupakan rumpun Ambon-Timor yang mirip dengan bahasa Uab Meto dan Tetun. Akan tetapi, secara tipologi grammatikal, bahasa Dhao berbeda dengan bahasa Sawu dan lebih mirip dengan bahasa Rote. Hal tersebut sangat beralasan mengingat kedekatan secara geografis dan hubungan ekonomi-politik antara Rote dan Ndao yang telah berlangsung sejak jaman Belanda. Perkembangan komunikasi yang semakin modern tidak menutup kemungkinan adanya interferensi antara bahasa Rote dan bahasa Dhao. Hal ini terlihat dari berbagai kosakata dalam bahasa Dhao yang mirip atau sama dengan bahasa Rote. Selain itu, ada kemungkinan terjadinya pengaruh bunyi bahasa Dhao pada bahasa Rote yang dituturkan di bagian barat, seperti Dela-Oenale oleh karena intensnya interaksi sosial kedua daerah tersebut. (bersambung...)

No comments:

Post a Comment